Surakarta— Memasuki penyelenggaraan ke-20, festival ini kembali menegaskan posisi Kota Solo sebagai salah satu pusat perkembangan musik keroncong di Indonesia sekaligus menjadi ruang pertemuan seniman lintas generasi untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan relevan.
Mengusung tema "Keroncong Pusaka Nusantara" dengan konsep "Keroncong Majestic" dan tagline "Memayu Hayuning Keroncong", SKF 2026 tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana keroncong mampu berkembang melalui kolaborasi tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Pembukaan festival diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan laporan Ketua Panitia Bangkit Sanjaya, sambutan dari Keraton Kasunanan Surakarta, Pemerintah Kota Surakarta, hingga Kementerian Pariwisata. Momen pembukaan semakin semarak melalui penampilan tari Mahottama Suara dari Sanggar Tari Brahmastra serta seremoni memainkan alat musik cak dan cuk sebagai simbol dimulainya festival.
Ketua Panitia SKF 2026, Bangkit Sanjaya, mengatakan penyelenggaraan tahun ini menjadi bagian dari upaya menjaga eksistensi musik keroncong agar terus dicintai masyarakat, khususnya generasi muda.
"Solo Keroncong Festival kami hadirkan sebagai wadah apresiasi, pelestarian sekaligus inovasi musik keroncong agar tetap relevan di setiap generasi. Tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-20 dan mengusung semangat Memayu Hayuning Keroncong, yaitu menjaga tradisi sambil membuka ruang kolaborasi dengan sentuhan modern," ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelum puncak acara digelar, panitia telah menyelenggarakan sejumlah rangkaian kegiatan seperti pertunjukan di Pasar Gede, lomba menyanyi keroncong di RRI Surakarta, hingga pertunjukan di Koridor Gatot Subroto. Selama dua hari pelaksanaan, sebanyak 13 grup keroncong dari berbagai daerah tampil meramaikan festival bersama sejumlah musisi nasional.
Menurut Bangkit, keberhasilan festival tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kota Surakarta, Keraton Kasunanan Surakarta, sponsor, media partner, relawan, serta seluruh komunitas keroncong yang terus menjaga denyut musik tersebut.
Pada malam pembukaan, penonton disuguhi beragam penampilan yang menunjukkan wajah keroncong masa kini. Kecamatan Pasar Kliwon berkolaborasi dengan KGPH Madu Kusumo membuka rangkaian pertunjukan, disusul Kecamatan Laweyan yang menghadirkan nuansa keroncong klasik.
Orkes Keroncong Tunjok Langit kemudian tampil dengan aransemen yang kaya harmoni, sementara Krontjong Lapis Legit dari Bandung menghadirkan warna berbeda melalui perpaduan instrumen keroncong dengan saxophone, trumpet, serta gamelan.
Suasana semakin meriah saat OK Impresif Riang Gembira berkolaborasi dengan Tuti Maryati, sebelum akhirnya panggung ditutup penampilan OK De Java Keroncong bersama Iga Mawarni yang menjadi salah satu penampilan paling dinanti pada malam pertama.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Maretha Dinar Cahyono, menegaskan SKF bukan sekadar festival musik, tetapi bagian dari upaya menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
"Keroncong bukan hanya warisan masa lalu, tetapi pusaka hidup yang harus terus dirawat dan dikembangkan. Melalui Solo Keroncong Festival, kami ingin menghadirkan ruang ekspresi, edukasi, sekaligus diplomasi budaya agar keroncong tetap hidup, relevan, dan mampu diterima lintas generasi," katanya.
Menurut Maretha, filosofi keroncong mengajarkan harmoni. Berbagai instrumen yang berbeda mampu berpadu tanpa saling mendominasi, menghasilkan alunan yang indah dan mencerminkan semangat persatuan masyarakat Indonesia.
"Saya berharap Solo Keroncong Festival tidak berhenti sebagai hiburan semata, tetapi menjadi momentum untuk menjaga warisan budaya sekaligus menanamkan kecintaan terhadap keroncong kepada generasi muda," tambahnya.
Apresiasi juga datang dari Kementerian Pariwisata melalui Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB), Agustin Peranginangin. Ia menyebut konsistensi penyelenggaraan SKF telah membawa festival tersebut menjadi salah satu agenda budaya paling penting di Indonesia.
"Solo Keroncong Festival telah diselenggarakan secara konsisten dan menjadi ruang penting bagi pelestarian sekaligus pengembangan musik keroncong nasional. Tahun ini kita patut berbangga karena SKF berhasil masuk dalam Top 10 Karisma Event Nusantara 2026," ungkapnya.
Ia menilai kehadiran seniman dari berbagai daerah, bahkan mancanegara, menunjukkan keroncong memiliki potensi besar sebagai instrumen diplomasi budaya Indonesia.
"Event budaya seperti ini bukan hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mampu menggerakkan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan memperkuat citra Surakarta sebagai destinasi budaya unggulan Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas dan Penanggung Jawab Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPA H. Panembahan Agung Tedjowulan, mengajak seluruh masyarakat menjadikan keroncong sebagai kebanggaan bersama.
"Solo dan keroncong tidak bisa dipisahkan. Lagu Bengawan Solo telah mengharumkan nama Indonesia hingga mancanegara. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama, terutama generasi muda, untuk terus mengembangkan dan melestarikan musik keroncong," katanya.
Ia berharap Solo Keroncong Festival mampu melahirkan lebih banyak musisi yang meneruskan jejak maestro Gesang.
"Mari kita lahirkan Gesang-Gesang berikutnya agar keroncong terus hidup dan dikenal dunia," pungkasnya.
Melalui kolaborasi seniman, pemerintah, komunitas, hingga Keraton Kasunanan Surakarta, Solo Keroncong Festival 2026 kembali membuktikan bahwa keroncong bukan sekadar musik nostalgia. Dari Kota Solo, harmoni tradisi dan kreativitas terus diperdengarkan, mengajak generasi muda menjaga sekaligus membawa warisan budaya Indonesia melangkah lebih jauh ke panggung dunia.
Sampai jumpa di sana.
