Surakarta— Hampir tiga pekan berlalu sejak gaung panggung Solo Keroncong Festival (SKF) 2026 yang digelar di Alun-alun Utara Surakarta meredup. Namun, getaran dawai cak, cuk, dan cello-nya masih menyisakan perenungan mendalam bagi ekosistem musik tanah air.

Memasuki usia perhelatan yang ke-20 tahun, SKF bukan sekadar panggung hajatan tahunan. Ia telah menjelma menjadi benteng ketahanan budaya sekaligus ruang tawar-menawar antara pakem masa lalu dengan eksperimentasi masa depan.

Kepada Ganang Partho Radio Keroncong Indonesia, Danis Sugianto—Kurator SKF sekaligus Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta—menegaskan visi fundamental di balik konsistensi festival ini.

"Keroncong bukan sekadar museum beku di lemari es peradaban, melainkan entitas yang terus berdandan dan berkembang menghidupi nilai kehidupan Indonesia," tegas Danis Sugianto.

Oasis di Tengah Efisiensi Anggaran

Perjalanan dua dekade SKF tidaklah mulus tanpa gelombang. Di tengah situasi ekonomi global dan kebijakan efisiensi anggaran nasional, penyelenggaraan festival budaya kerap berada di posisi yang rentan.

Namun, SKF 2026 berhasil membuktikan ketahannya. Menurut Danis, festival ini mampu bertahan berdiri kokoh berkat komitmen luar biasa dari para seniman yang menempatkan nilai kekeluargaan di atas sekadar kalkulasi profesionalisme finansial. Sinergi yang erat antara Keraton Surakarta, Pemerintah Kota Surakarta, dan para penggiat seni menjadikan SKF sebagai sebuah "oasis di padang gurun" bagi ekosistem seni pertunjukan nasional.

Solo Sebagai "Mekkah" dan Ziarah Musikal

Secara historis dan sosiologis, Solo diakui sebagai tulang punggung perkembangan keroncong di Nusantara. Gaya musikal dan dinamika sosialnya telah lama menjadi parameter utama bagi perkembangan keroncong di daerah-daerah lain.

Danis menggambarkan Solo sebagai destinasi "ziarah" atau tempat "homecoming" bagi para pegiat keroncong dari berbagai penjuru tanah air. SKF bertindak sebagai pusat gravitasi yang merangkul seluruh spektrum—mulai dari aliran klasik yang ketat pada pakem, hingga bentuk pengembangan kontemporer yang cair.

Pengaruh keterbukaan Solo ini terbukti memiliki multiplier effect yang nyata. Sejak 2014, geliat komunitas keroncong anak muda menjamur di kampus-kampus dan sekolah di wilayah Jawa Timur hingga Jawa Barat, khususnya Bandung. Kehadiran delegasi muda dari luar daerah di panggung SKF menunjukkan bahwa misi diseminasi budaya ini berhasil menyentuh saraf regenerasi.

Evolusi Spesies: Keroncong Berhak "Berdandan"

Satu poin strategis yang ditekankan oleh Danis Sugianto adalah pentingnya evolusi spesies dalam keroncong. Jika keroncong dikurung rapat-rapat dalam norma universal yang statis, ia terancam ditinggalkan oleh zaman.

Untuk tetap relevan bagi generasi mendatang, musik keroncong memiliki hak mutlak untuk:

Berdandan: Beradaptasi dan mempercantik diri dengan estetika pertunjukan zaman modern.

Berkembang: Melahirkan genre-genre baru yang heterogen dan berani menyeberangi sekat tradisi.

Menghidupi: Menyatu dengan denyut kehidupan sosial masyarakat Indonesia modern, bukan sekadar artefak ingatan.

"Keberhasilan keroncong di masa depan sangat bergantung pada rasa memiliki (rumangsa handarbeni) dari masyarakat luas—baik warga Solo maupun masyarakat luar Solo—untuk bersama-sama menjaga apinya tetap menyala," tambah Danis.

Menatap Masa Depan Keroncong Indonesia

Solo Keroncong Festival ke-20 telah memberikan landasan yang kokoh. Langkah strategis ke depan bukan lagi sekadar merawat tradisi agar tidak hilang, melainkan mendorong lahirnya gerakan-gerakan keroncong baru di berbagai pelosok daerah yang membawa warna lokalnya masing-masing.

Dengan membiarkan keroncong terus tumbuh sebagai 'organisme yang hidup', SKF memastikan bahwa warisan musik Nusantara ini tidak hanya dikenang sebagai masa kejayaan yang lampau, melainkan terus beresonansi menembus batas zaman. [gp]

← Warta lainnyaDengarkan Radio