Hampir tiga pekan telah berlalu sejak panggung Solo Keroncong Festival (SKF) 2026 diresmikan dan usai dilaksanakan. Gema dawai cak, cuk, dan melodi keroncong yang membumbung di Kota Solo mungkin mulai mereda, namun riak diskusi mengenai masa depan festival ini justru semakin hangat diperbincangkan.

Keberhasilan SKF untuk terus bertahan dan konsisten hadir hingga saat ini patut diacungi jempol. Namun, di usianya yang makin matang, ekspektasi publik—khususnya dari kalangan akademisi dan peneliti budaya—jelas ikut melonjak tinggi. SKF tidak lagi cukup hanya dinilai dari indikator sederhana: "apakah acaranya terlaksana atau tidak."

Pandangan mendalam disampaikan kepada Radio Keroncong Indonesia. Datangnya dari Ayu Nareswari, S.E., M.M., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang saat ini tengah menempuh studi doktoral (S3) di Universitas Negeri Jember (UNEJ). Sebagai akademisi yang juga seorang krontjongers, Ayu menegaskan bahwa SKF memiliki nilai strategis yang jauh melampaui panggung hiburan semata.

"Saya melihat SKF tidak hanya sebagai pertunjukan musik, tetapi sebagai produk budaya yang punya nilai ekonomi, sosial, sekaligus branding bagi Kota Solo," ujar Ayu.

Dari kacamata ekonomi kebudayaan dan manajemen pertunjukan, Ayu menyoroti tiga Pekerjaan Rumah (PR) besar yang perlu menjadi bahan evaluasi serius bagi penyelenggara SKF ke depan:

1. Tajamkan Kurasi dan Narasi Pertunjukan

Catatan pertama Ayu tertuju pada kurasi konten dan alur pertunjukan. Menurutnya, perhelatan sebesar SKF idealnya membawa penonton ke dalam sebuah perjalanan emosional yang utuh—ada ruang untuk penasaran, momen kejutan, hingga impresi mendalam yang membekas saat penonton melangkah pulang.

Sayangnya, alur penampilan di panggung dinilai masih cenderung datar sehingga grafik energi penonton perlahan menurun di tengah gelaran.

Pengemasan Lintas Disiplin: Keroncong memiliki modal sosial dan estetika yang sangat kaya untuk dieksplorasi—mulai dari kolaborasi lintas genre, lintas generasi, hingga lintas disiplin seni.

Fokus Pada Cerita: "Yang dibutuhkan bukan sekadar banyaknya penampil, melainkan bagaimana setiap pengisi acara menjadi bagian dari satu cerita besar festival," tegasnya.

2. Posisikan Identitas (Positioning) SKF Secara Tegas

Catatan kedua menyasar persoalan identitas dan citra merek (branding) festival. Di tengah gempuran berbagai festival musik modern, SKF dinilai belum memiliki positioning yang benar-benar tegas dan pembeda.

Ayu melemparkan pertanyaan mendasar untuk bahan perenungan bersama:

"Sebenarnya SKF ini ingin dikenal sebagai apa? Festival tradisi? Destinasi wisata? Musik keluarga? Atau festival kreatif yang menyasar generasi muda?"

Membandingkan dengan festival-festival besar di kota lain yang sukses menjual atmosfer dan pengalaman (experience), SKF harus mampu menciptakan kesan khas yang unik. Tanpa positioning yang kuat, kekhawatiran terbesar adalah pengunjung hanya akan mengingat acara ini sebagai "konser musik biasa yang lewat begitu saja", bukan sebagai pengalaman budaya yang ikonik.

3. Kualitas Teknis dan Manajemen Ritme Penonton

Hal yang paling menyita perhatian dan membuat Ayu merasa "geregetan" adalah masalah kualitas teknis di lapangan, terutama tata suara (sound system). Gangguan teknis seperti bunyi dengung (feedback) yang beberapa kali muncul sangat disayangkan karena mencederai performa musisi yang sudah tampil maksimal.

Kualitas Suara Sebagai Standar Utama: Untuk festival berskala nasional bahkan internasional, kualitas audio harus dijadikan standar utama yang tidak boleh ditawar, bukan sekadar pelengkap.

Manajemen Energi Penonton: Fenomena banyaknya penonton yang pulang sebelum acara selesai menjadi sinyal penting. Hal itu bukan berarti penampilnya buruk, melainkan indikasi bahwa ritme pertunjukan perlu dirancang lebih matang agar energi dan antusiasme penonton tetap terjaga hingga akhir acara.

Apresiasi Konsistensi dan Riset Lintas Daerah

Meski menyampaikan catatan kritis yang tajam, Ayu Nareswari tetap menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi panitia dan Pemerintah Kota Solo. Mempertahankan keberlangsungan sebuah festival budaya dalam jangka panjang adalah perjuangan yang tidak mudah.

Kecintaan dan komitmennya terhadap keroncong pun terus berlanjut. Dalam waktu dekat, Ayu dijadwalkan bertolak ke Bandung untuk melakukan penelitian disertasinya mengenai festival keroncong secara holistik. Ia berencana menemui grup Keroncong Lapis Legit dari UPI Bandung yang turut mencuri perhatian di panggung SKF 2026, serta menggali perspektif dari berbagai sudut pandang: penyelenggara, penampil, hingga penonton.

Catatan Penutup

Kritik dan masukan dari akademisi seperti Ayu Nareswari bukanlah bentuk pelemahan, melainkan 'cambuk' kasih sayang agar Solo Keroncong Festival tidak terjebak dalam zona nyaman. Dengan mempertajam kurasi, mempertegas identitas, dan membenahi detail teknis, SKF dipastikan akan tumbuh menjadi produk budaya yang kian berwibawa—menjadi kebanggaan Solo dan benteng utama keroncong Indonesia. [gp]

← Warta lainnyaDengarkan Radio